LSM Media Sambut Baik Pembebasan Win Tin di Myanmar

Blog Single

Bangkok  (ANTARA News/AFP) - Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) media massa menyambut baik  dibebaskannya wartawan senior yang menjadi tahanan politik terlama di Myanmar, Win Tin, sebagai bagian dari amnesti yang diberikan kepada lebih dari 9.000 tahanan.


Wartawan Tanpa Batas (RWB) dan Perhimpunan Media Burma (BMA) Selasa menyambut baik pembebasan Win Tin (79), yang disebut pemerintahan militer Myanmar selaku pembangkang. Ia dijebloskan ke penjara Yangon yang seram, Insein, sejak 1989.

"Kami bekerjasama untuk membela bahwa Win Tin tidak bersalah, dan kami sangat lega bahwa dia pada akhirnya dibebaskan," kata perhimpunan-perhimpunan kebebasan pers di dalam pernyataan bersama yang dikeluarkannya.


"Kami berharap para wartawan lainnya dan juga para tahanan juga akan dibebaskan, dan bahwa Win Tin akan bisa melanjutkan kembali perjuangan damainya demi kebebasan pers dan demokrasi di Burma ini," kata mereka. Mereka menggunakan nama Burma, yakni nama lama Myanmar, yang mencerminkan ketidaksetujuan atas pemerintahan militer di negeri itu..

Win Tin adalah di antara tujuh pembangkang yang dibenarkan telah dibebaskan sebagai bagian dari amnesti, dalam mana media resmi Myanmar mengatakan 9.002 tahanan akan dibebaskan dan mereka bisa ikut ambil bagian dalam pemilihan-pemilihan yang dijanjikan oleh jenderal-jenderal yang berkuasa pada 2010. Tindakan ini juga terjadi bertepatan setahun peringatan protes massa anti-junta.

Win Tin dijebloskan ke penjara 20 tahun pada 4 Juli 1989, ketika dia bertindak sebagai penasehat pemimpin demokrasi Aung San Suu Kyi, dan menulis surat-surat kepada dutabesar Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di Burma.

Pada saat pembebasannya Selasa (23/9), Win Tin masih berpakaian warna biru penjara. Dia berjanji kepada para wartawan bahwa dirinya akan terus akan berjuang melawan jenderal-jenderal yang berkuasa.

Pembebasannya juga disambut gembira oleh PBB dan Aliansi Pers Asia Tenggara.


"Kami gembira saat mendengar berita bahwa semangatnya untuk berjuang demi demokrasi masih tak terpatahkan," kata Direktur Aliansi Pers Asia Tenggara, Roby Alampay, di dalam pernyataannya.

Para pembangkang lainnya yang dibenarkan telah dibebaskan Selasa, adalah Aye Thein, Khin Maung Swe, Mayor Win Htein, Than Nyein, Aung Soe Myint dan May Win Myint.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia (HAM) memperkirakan bahwa sekitar 2.000 tahanan politik dijebloskan di penjara Myanmar, termasuk pembangkang terkemuka negara itu, pemenang hadian Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi, yang telah menjalani tahanan selama 19 tahun.

Suu Kyi adalah pemimpin Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) yang memenangkan pemilu tahun 1980-an, namun tak pernah diakui oleh junta militer, sehingga dia tak bisa membentuk pemerintahan.

Dia dijebloskan dalam tahanan rumah di kediamannya di tepi danau di Yangon, dengan sedikit mendapat kebebasan bertemu dengan orang luar, yang antara lain dokter pribadinya.

Terakhir kali Suu Kyi dilaporkan menolak ransum makanan yang diberikan pemerintah militer, sehingga kesehatannya melemah, namun pemerintah membantah bahwa Suu Kyi melakukan mogok makan. (*)

Berita Terkait: